Salwa Nailaturrahmah, Mahasiswa Sastra Indonesia Unpad Raih Peringkat 1 Duta Bahasa Jawa Barat 2025

Bandung — Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran, Salwa Nailaturrahmah, menorehkan prestasi membanggakan dengan dinobatkan sebagai Juara 1 Putri dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat 2025. Gelar tersebut ia raih dalam final yang digelar pada Sabtu, 21 Juni 2025, di Harris Hotel & Conventions Ciumbuleuit, Kota Bandung. Acara ini diselenggarakan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Ikatan Duta Bahasa Jawa Barat.

Salwa mengungkapkan bahwa kemenangannya bukan semata kemenangan pribadi, melainkan kemenangan kolektif.

“Rasanya bahagia sekali. Kemenangan ini bukan hanya milik pribadi, melainkan kemenangan bersama. Saya sangat bersyukur atas rezeki ini, sekaligus merenung, karena di balik kemenangan, ada tanggung jawab besar yang menanti. Tidak hanya untuk membawa nama Jawa Barat ke panggung nasional, tetapi juga untuk terus menyuarakan semangat kebahasaan di daerah sendiri,” ujarnya.

Pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat 2025 hadir dengan format yang lebih ramping dan selektif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada tahun lalu proses seleksi dimulai dari 100 besar, maka tahun ini seleksi dibuka langsung dari 80 besar, hasil penyaringan administratif dan substansial oleh panitia. Peserta 80 besar mengikuti serangkaian seleksi tahap pertama, meliputi Tes Kemampuan Bahasa Inggris (TKBI), penulisan esai dalam tiga bahasa, Ujian Kemahiran Bahasa Indonesia (UKBI) Adaptif, serta wawancara krida, yaitu pemaparan program advokasi kebahasaan yang mereka usung.

Dari tahapan ini, terpilih 20 finalis terbaik (10 putra dan 10 putri) yang kemudian mengikuti pembekalan intensif secara daring dan luring. Materi yang diberikan mencakup berbagai topik, seperti Sejarah dan Kode Etik Duta Bahasa, Bahasa Isyarat dan Hak Berbahasa, Penulisan Krida Ilmiah, Advokasi Kebahasaan di Ruang Digital, Seni Bicara Berdampak, Diplomasi Bahasa, hingga Apresiasi Bahasa dan Sastra. 

Pada tahap akhir, disaring kembali menjadi 12 finalis utama (6 putra dan 6 putri) yang memperebutkan gelar Juara 1, 2, 3, Harapan 1, 2, dan 3, serta sejumlah penghargaan atribut seperti Duta Favorit, Duta Media Sosial, Duta Berbakat, dan Duta Sahabat.

Dari seluruh rangkaian seleksi, Salwa menyebutkan bahwa presentasi krida pada seleksi tahap 2 sebagai tantangan terbesar. Dalam waktu kurang dari tiga menit, para finalis harus menyampaikan program advokasi kebahasaan secara padat dan jelas.

“Bagian yang paling menantang menurut saya adalah saat presentasi krida. Dalam waktu yang sangat singkat, para finalis harus menyampaikan gagasan dengan sebaik-baiknya, memilih, merangkai, dan mengolah kata-kata agar pesan yang padat tetap bisa dipahami. Selain itu, wawancara terkait krida juga cukup menantang karena menuntut saya untuk benar-benar menguasai apa yang saya advokasikan,” tutur Salwa.

Dalam ajang ini, Salwa mengusung krida bertajuk “Cakap Berbahasa, Peduli Berisyarat”, sebuah bentuk advokasi yang selaras dengan tema Pemilihan Duta Bahasa Jawa Barat 2025 yakni “Peran Bahasa dan Sastra dalam Keberagaman, Kesetaraan, dan Inklusivitas.” Gagasan ini lahir dari kegelisahan atas kurangnya perhatian terhadap Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) di ruang publik.

Menurutnya, Bahasa Indonesia sudah menjadi fokus utama untuk dimartabatkan dan diperjuangkan, tetapi Bisindo yang merupakan bahasa ibu bagi teman-teman Tuli, belum memperoleh pengakuan dan ruang yang setara.

“Padahal, Bisindo adalah bagian dari kebudayaan dan identitas mereka. Sudah seharusnya ia disejajarkan dengan Bahasa Indonesia di ruang-ruang publik,” tuturnya. Lewat krida ini, Salwa berharap masyarakat bisa memandang keberagaman bahasa sebagai bagian dari inklusi, bukan sekadar soal bahasa asing atau bahasa daerah, tetapi juga tentang semua bentuk ekspresi kebahasaan yang hidup di tengah masyarakat.

Seluruh rangkaian seleksi meninggalkan kesan yang mendalam bagi Salwa. Namun, tahap kedua menjadi pengalaman yang paling membekas. Pada tahap ini, jumlah peserta telah dikerucutkan, lingkup pertemuan menjadi lebih kecil, dan interaksi antarfinalis pun terasa lebih dekat. Pertemuan intensif di Balai Bahasa Jawa Barat membuat para finalis saling terhubung tidak hanya lewat materi pembekalan, tetapi juga melalui pertukaran pengetahuan dan cerita dari latar belakang yang beragam. “Saya merasa banyak belajar, bukan hanya dari materi yang disampaikan narasumber, melainkan juga dari interaksi dengan akang dan teteh finalis lainnya. Kami datang dari berbagai usia, program studi, dan daerah yang berbeda dan justru di sanalah letak kekayaannya. Kami saling belajar satu sama lain,” ujar Salwa.

Sebagai mahasiswa Sastra Indonesia, keikutsertaannya dalam ajang ini adalah bentuk nyata kecintaan terhadap ilmu yang ia pelajari.

“Aku ingin mencintai lebih besar bahasa dan sastra yang kupelajari. Karena dari rasa cinta itu, akan lahir semangat untuk menyebar manfaat,” ucap Salwa.

Salwa juga menitipkan pesan kepada generasi muda, khususnya Gen Z, yang hidup dan tumbuh dalam lanskap digital. Menurutnya, media sosial kini menjadi ruang utama interaksi, tempat di mana bahasa tulis memainkan peran penting dalam membentuk cara berpikir dan mengekspresikan diri.

“Sebagian besar hidup generasi Z saat ini berada di media sosial. Di sana, kita berkomunikasi melalui bahasa tulis. Maka penting bagi kita untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar. Duta Bahasa hadir untuk mengajak seluruh penutur bahasa, khususnya Bahasa Indonesia, agar memahami, mengerti, dan mencintai bahasa kita sendiri,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya menghidupi semangat Trigatra Bangun Bahasa yakni Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing. 

“Dengan mencintai Bahasa Indonesia, kita sedang merawat identitas bangsa. Dengan melestarikan bahasa daerah, kita menghargai bahasa ibu dari setiap wilayah, dan dengan menguasai bahasa asing, kita tidak hanya membuka jalan untuk menguasai dunia, tapi juga memberi peluang untuk membawa Bahasa Indonesia ke kancah internasional,” ujar Salwa.

Kini, Salwa tengah mempersiapkan langkah berikutnya, membawa nama Jawa Barat ke panggung nasional dalam Pemilihan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2025 di Jakarta. Ia akan melanjutkan advokasinya, membawa semangat Trigatra Bangun Bahasa ke ruang yang lebih luas. Mari kita dukung dan doakan Salwa, semoga perjalanannya di tingkat nasional berjalan lancar dan bisa membawa dampak yang lebih luas dalam menyuarakan keberagaman dan kesetaraan berbahasa.

Penulis : Sarah 2024