Axelly Tanaya Memenangi Seleksi Internal Peksiminas XVIII

Mahasiswi Sastra Indonesia Unpad Memenangi Lomba Penulisan Puisi pada Seleksi Internal Peksiminas XVIII

Penulis: Lulu Luthfi

Pada hari itu, Axelly Tanaya datang ke acara penghargaan dengan pikiran yang sederhana: ia hanya berharap mendapat konsumsi. Tidak ada persiapan khusus, bahkan untuk penampilannya sendiri. “Tampilanku kaya gembel waktu itu,” ucapnya dengan tertawa mengingat momen tersebut. Namun begitu satu per satu nama pemenang mulai disebutkan, suasana hatinya perlahan berubah. Lalu, ketika namanya dipanggil sebagai juara 1 lomba penulisan puisi dalam Seleksi Internal Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVIII, mewakili Universitas Padjadjaran, Axel sempat tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Hari yang awalnya ia bayangkan biasa-biasa saja, berakhir menjadi salah satu momen yang paling membekas.

Axelly Tanaya, yang akrab disapa Axel, adalah mahasiswi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran angkatan 2023. Kini, ia sebenarnya sudah mulai disibukkan dengan pengerjaan skripsi. Di tengah tekanan itu, puisi menjadi salah satu pelampiasan stress yang ia pilih, sebuah kebiasaan yang sebenarnya sudah Axel jalani jauh lebih lama dari yang orang-orang kira.

Kecintaan Axel pada Puisi

Sejak duduk di bangku sekolah, Axel sudah jatuh hati pada dunia menulis puisi. Ia bahkan sempat menjadi salah satu penulis dalam buku antologi puisi semasa SMA, melalui program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional (GSMBN), sebuah gerakan literasi tahunan yang digagas Nyalanesia sejak 2016. Namun, setelah masuk kuliah, aktivitas menulis puisi itu sempat terhenti hingga Seleksi Internal Peksiminas menjadi alasan baginya untuk kembali.

Keputusan Axel untuk mendaftar Seleksi internal Peksiminas pun lahir dari dorongan yang sama, impulsif dan tanpa beban. “Jujur impulsif aja, karena aku udah lama nggak buat puisi, jadi pengen nyoba-nyoba” ujar Axel. Ia mengakui sempat ragu, tapi pada akhirnya memilih untuk mendaftar tanpa ekspektasi apa pun. 

Proses Seleksi

Setelah panitia mengumumkan tema “Cerita untuk Negeri”, Axel memilih untuk menyuarakan kehidupan kaum marginal, khususnya buruh yang kesejahteraannya seringkali terampas oleh sistem kebijakan yang melestarikan ketidakadilan. Ia ingin puisinya menjadi representasi suara mereka yang turut menjadi korban dari sistem tersebut. Namun di balik gambaran pahit itu, Axel juga menghadirkan sisi ketabahan tokoh utamanya dengan menyisipkan unsur spiritualitas. Baginya, ketika dunia terasa tak bisa diandalkan, selalu ada Sosok yang lebih besar untuk bersandar dan menguatkan. Meskipun begitu, ia tetap memberikan kebebasan kepada pembaca untuk menafsirkan puisinya sesuai dengan perspektif masing-masing. “Sebenarnya kan puisi itu tergantung dari perspektif pembaca, jadi ya itu gimana pembaca aja sih menginterpretasikannya,” ucap Axel.

Perjalanannya tidak sepenuhnya mulus. Axel bercerita, di tengah proses pengerjaan, rasa malas terkadang datang menghampirinya, apalagi saat itu tugas-tugas kuliah sedang menumpuk. Bahkan, sempat terselip rasa menyesal karena sudah terlanjur mendaftar. Namun, ia memilih untuk tetap menjalaninya. “Tapi tetap dikerjain, karena udah terlanjur,” katanya dengan nada yang khas. Setengah serius, setengah tertawa pada dirinya sendiri. 

Satu hal yang menarik, selama seluruh proses ini, hampir tidak ada yang tahu Axel sedang mengikuti lomba. Hanya ada dua orang yang mengetahuinya. Ini bukan kebetulan, Axel memang sengaja tidak memberitahu banyak orang. “Aku nggak mau kepressure dan jadi beban kalau orang-orang tahu aku ikut.” jelasnya. Dalam perjalanan ini, ia hanya bersandar pada dua hal yaitu diri sendiri, dan Tuhan. 

Meskipun mengikuti lomba secara online dengan mengirimkan video, Axel tetap merasakan ketegangan seolah-olah sedang berdiri di depan panggung. Selebihnya, ia berserah. Ketika panitia menyebut namanya sebagai juara 1, Axel langsung memanjatkan puji syukur kepada Tuhan.

Momen pengumuman Peksiminas XVIII yang tak terduga bagi Axel. 
(Foto: Dokumentasi pribadi Axelly Tanaya)

Refleksi Kemenangan 

Kabar kemenangan itu pertama kali ia bagikan kepada keluarga dan teman yang juga ikut tangkai lomba lain di Peksiminas. Ia membagikan momen tersebut bukan untuk pamer, melainkan untuk kebahagiaan yang hadir secara tak terduga. Prestasi ini merupakan wujud dukungan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu Pendidikan Berkualitas, melalui pengembangan minat, bakat, dan kreativitas mahasiswa dalam bidang seni dan sastra sebagai bagian dari proses pendidikan di perguruan tinggi. 

Bagi Axel, pelajaran terbesar dari pengalaman ini bukan soal teknis menulis atau strategi lomba. Ini tentang keberanian untuk mencoba, bahkan ketika ragu maupun malas. “Let it flow aja, dan serahkan kepada Tuhan, karena apa yang menjadi bagian kita pasti kelak akan datang,” ujarnya. 

Dari yang awalnya hanya berharap konsumsi, hingga namanya dipanggil sebagai juara 1, perjalanan Axel membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba sering kali membawa hasil yang jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan. Dan untuk mahasiswa lain yang masih ragu mengikuti lomba, pesan dari Axel: jangan takut mencoba. “Masalah hasilnya, itu udah bukan bagian kita. Bagian kita adalah mencoba dan berusaha,” tegasnya. Ia menutup dengan sebuah kutipan yang ia sukai, lucu tapi sangat menyentuh “Gimana mau sukses kalau banyak ah tapi?”.

Axelly Tanaya membuktikan bahwa terkadang, prestasi terbesar datang bukan dari persiapan yang sempurna, melainkan dari keberanian untuk sekadar mulai.

Axelly Tanaya, mahasiswi Sastra Indonesia FIB Universitas Padjadjaran angkatan 2023. 
(Foto: Dokumentasi pribadi Axelly Tanaya)