Diskusi Esai Menyelesaikan Kebingungan Mahasiswa

Parkiran gedung c begitu sepi pada Jumat (7/10) pagi, tidak ada bedanya dengan laman Majalah Gelanggang yang semenjak diaktifkan kembali masih kekurangan kontributor dan pembaca. Barangkali keduanya sudah dianggap lumrah, parkiran yang selalu sepi pada Jumat pagi dan mahasiswa Sasindo yang bingung bagaimana caranya “menulis” dan apa yang harus ditulis.

Kedua suasana sepi itu menuntun pada keadaan-keadaan yang mungkin kita alami. Sepinya kampus dibarengi dengan datangnya kabar mengenai kasus Covid yang kembali melonjak, mengembalikan ingatan pada dersik daun kering dan eongan kucing di kampus yang tak digunakan selama pandemi. Sedangkan sepinya Majalah Gelanggang, memungkinkan mati surinya untuk kedua kali.

Untungnya tidak semua tempat dijangkiti suasana sepi. Salah satunya adalah sebuah ruang kelas di gedung c, terlihat Tendy K. Somantri–seorang Editor, Jurnalis, sekaligus Pengajar yang merupakan Alumni Prodi Sastra Indonesia–sedang berbicara mengenai ‘Cara Gampang Menulis Esai’ dalam diskusi yang merupakan bagian dari mata kuliah Proses Kreatif: Penulisan Esai. Diskusi ini dihadiri oleh mahasiswa–baik yang mengambil mata kuliah ini, maupun yang tidak–, dosen, bahkan Kaprodi Sastra Indonesia.

Tendy K. Somantri mengawali diskusi dengan menjelaskan ‘data’ dan ‘fakta’. Data adalah himpunan sesuatu–bisa berupa angka dan hal lainnya–yang kita sering terima dalam bentuk tertulis, sedangkan fakta adalah kenyataan yang dapat ditangkap oleh indra manusia. Lantas apa hubungannya data dan fakta dengan menulis esai? Dijelaskan bahwa esai adalah tulisan yang berisi pandangan seseorang mengenai suatu masalah. Tentunya masalah ini berangkat dari data atau fakta. Mungkin saja data bertolak belakang dengan fakta atau sebaliknya, tetapi sangat mungkin data dihidupkan oleh fakta atau fakta dikuatkan oleh data.

Pada diskusi ini juga dijelaskan alur penulisan esai. Segala sesuatu diawali dengan kemauan, termasuk menulis esai, tutur, Tendy K. Somantri. Kemauan untuk mencari ide, masalah yang sebenarnya banyak sekali di sekeliling kita. Ide yang sudah dipilih kemudian diolah lagi dengan melakukan pencarian data dan fakta. Kenyataan-kenyataan yang ada itu kemudian dirumuskan untuk menjadi solusi dalam tulisan.

Struktur juga menjadi bahasan lain, selain pengertian esai dan alur penulisannya. Secara sederhana dijelaskan bahwa esai terdiri dari tiga bagian. Pertama, pendahuluan yang sering disebut lead atau teras yang fungsinya menarik perhatian pembaca. Kedua, isi yang memuat rangkaian data dan fakta. Ketiga, penutup yang merupakan simpulan berupa penegasan ulang dari masalah beserta solusi yang sudah disampaikan.

Tendy K. Somantri menggunakan objek kerupuk untuk memperjelas alur penulisan esai dengan struktur yang baik. Objek ini diambil karena dekat dengan kehidupan, tetapi tidak terlalu diperhatikan. Isu-isu semacam itulah yang menurutnya perlu diperhatikan, sesuatu yang tidak dipikirkan dan terpinggir mungkin saja merupakan sesuatu yang patut dipikirkan. Kembali pada kerupuk, menurut Tendy K. Somantri, ide atau masalah yang bisa dimunculkan dari kerupuk sangatlah beragam. Hal itu dapat diamati dari berbagai sudut pandang, misalnya ekonomi, lingkungan, budaya, dan lainnya. Dicontohkan pengambilan masalah dengan melihat pengemasan kerupuk menggunakan plastik, hal ini dapat dipermasalahkan dengan mempertanyakan banyak hal, misalnya berapa banyak plastik yang digunakan? Kemana plastik itu setelah pemakaian? Pertanyaan-pertanyaan itu mengharuskan kita mengejar data dan fakta. Fakta yang dimunculkan oleh Tendy K. Somantri dalam kasus ini adalah ingatan masa lalunya, hal ini menunjukkan bahwa fakta dapat saja diambil dari masa lalu. Diceritakan olehnya, dulu sebelum menggunakan plastik, kerupuk dikemas menggunakan kaleng yang disebut blek. Berangkat dari fakta itu Tendy K. Somantri mengajukan solusi dengan penggunaan kemasan masa lalu. Masalah dan solusi tersebut tinggal dihubungkan dengan data dan fakta yang muncul dari mempertanyakan banyak hal tadi.

Sebagai sebuah diskusi tentunya kegiatan ini tidak berlangsung hanya dengan satu arah. Beberapa mahasiswa yang hadir memanfaatkan kesempatan diskusi ini untuk bertanya. Data dan fakta menjadi salah satu topik yang diminati, Reza Salman Alfaris bertanya mengenai pencarian data yang sulit untuk memperkuat fakta yang ada. Jawaban pertanyaan tersebut kembali pada sudut pandang, jawab Tendy K. Somantri. Pada pertanyaan ini diajukan contoh fakta mengenai bus Dipatiukur–Jatinangor yang ditumpangi penanya pernah mogok dan hal tersebut dialami dua kali. Hal tersebut ingin diangkat melalui sudut pandang ekonomi oleh penanyanya. Maka perlu dicari data yang berkaitan dengan ekonomi, misalnya waktu yang dibuang oleh mogoknya bus dibandingkan dengan rupiah yang dapat didapatkan sehingga bisa jelas kerugiannya, tutur Tendy K. Somantri.

Pertanyaan lain mengenai data dan fakta diajukan oleh Wiwin Winarti, lebih baik mana antara menulis sebelum data dan fakta terkumpul atau menulis setelah data dan fakta terkumpul? Pertanyaan itu dijawab dengan keadaan bahan untuk penulisan. Penulisan bisa dilakukan berbarengan dengan pencarian data dan fakta sehingga data dan fakta dapat mempengaruhi hasil tulisan.

Data dan fakta masih menjadi topik pertanyaan selanjutnya, Zahra Aulia bertanya mengenai perlunya fakta yang diambil dari lapangan langsung. Satu contoh diambil untuk menjawab pertanyaan ini, yaitu tragedi Kanjuruhan. Fakta yang diambil dari kejadian tersebut kebanyakan bukan fakta yang dialami oleh penulis, melainkan hasil pengamatan setelah kejadian. Fakta-fakta yang terkumpul tentunya bisa melalui foto dan video, wawancara dengan orang yang terlibat, dan banyak cara lainnya.

Pertanyaan-pertanyaan dalam diskusi ini menjadi penutup acara tersebut. Selain terlaksananya perkuliahan, sesuatu penting dalam diskusi ini sebenarnya adalah terjawabnya kebingungan mahasiswa Sasindo mengenai bagaimana caranya “menulis” dan apa yang harus ditulis. Dengan begini, seharusnya Majalah Gelanggang tidak lagi harus memikirkan kematisuriannya yang kedua karena mahasiswa Sasindo sudah dibekali kemampuan menulis. Lebih dari itu banyak sekali mahasiswa yang mengirimkan tulisannya ke media, utamanya pada mata kuliah yang diampu oleh Abdul Hamid, M. Hum. (mrs)

PENULIS : M., ROBY SEPTYAN 180110200039

MAHASISWA SASINDO ANGKATAN 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *