Sastra Indonesia Unpad Jadi Bagian Safari Sastra 7 Kampus

SAFARI SASTRA 7 KAMPUS (4)
Universitas Padjadjaran, Aula Pusat Studi Bahasa Jepang, Jatinangor, 6 Juni 2022
Kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, Kabupaten Sumedang, menjadi tempat keempat perjalanan “Safari Sastra 7 Kampus” Penyair Yudhistira ANM Massardi dan Acep Zamzam Noor.
Berbeda dengan penyelanggaraan di kampus-kampus lain, di Unpad acara ini dilaksanakan secara hybrid. Melaui daring dengan fasilitas zoom meeting, dan dengan cara luring di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang, Senin (6/6).
Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad Prof. Aquarini Priyatna, M.A., M.Hum., Ph.D, dalam sambutan pembukaan mengungkapkan rasa bangga dan berterimakasih kepada Yudhistira dan kawan-kawan yang telah bersedia menyambangi Kampus Unpad dalam safari ini. “Sungguh kami merasa terhormat, ” katanya.
Menurut Bu Dekan, acara ini sangat penting bagi FIB dan bersesuaian dengan misi Yudhistira hendak mengompori nyali literasi kalangan kampus. ‘Tema puisi jarang sekali menjadi tema skripsi. Maka kegiatan seperti ini sangatlah penting untuk mengajak mahasiswa melirik tema puisi, dan sekaligus performing art, ” katanya.
Selain Dekan, kegiatan Safari Sastra hari keempat ini juga dihadiri Wakil Dekan FIB Unpad Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M.Hum.
Sebelum acara dimulai pukul 13.00, Tim Safari yang total berjumlah 10 orang, disuguhi santap siang a la Pasundan yang dilengkapi pepes ikan gurame, karedok, semur jengkol, ikan asin goreng dan sambal terasi yang sedap.
Format acaranya sendiri sudah dirancang solid terbagi dalam empat bagian. Setelah pidato sambutan dari tuan rumah, Yudhis tampil mengucapkan terimakasih tawarannya sudah direspons dengan cepat, dan diterima dengan hangat oleh ketujuh kampus yang dituju.
Ia juga berterimakasih kepada kedua sponsor: Direktorat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan di bawah Direktur Jenderal Dr. Hilmar Farid dan Djarum Foundation Bakti Budaya di bawah kordinasi Ibu Renitasari.
Sesudah itu, Yudhis langsung membacakan 11 sajak yang diambil dari kumpulan “Sajak Sikat Gigi” (1974), “Rudi Jalak Gugat” (1982), “99 Sajak” (2015), “Jangan Lupa Bercinta!” (2020), dan “Kuatrin, Sekret, Sains & Corona” (2021).
Sajak-sajak yang dibacakan Yudhis itu membuat suasana di aula menjadi penuh permenungan, humor dan romantisme. Para penonton menyimak dengan khusuk dan larut.
Setelah itu, untuk menyegarkan kembali suasana, tampil tiga pemusik muda Tasikmalaya dari kelompok “Kuluwung” yang tergabung dalam komunitas budaya asuhan Acep Zamzam Noor.
Musikalisasi puisi bagian pertama itu menyajikan dua komposisi indah yang ditulis Eki Naufal, “Lagu Awan” yang digubah dari sajak Yudhis, dan “Mengukir Tubuhmu” karya Acep. Trio Eki Naufal (vokal, biola), Rheva (gitar) dan Nazar (vokal) pun berhasil tebar pesona musikal yang memikat.
Pada bagian ketiga tampil.
Acep Zamzam Noor membacakan enam sajak yang ditulisnya dalam kurun 30 tahun terakhir.
Sesudah itu, Trio Kuluwung masuk lagi mebawakan satu komposisi yang digubah dari karya Yudhis, “Sajak Purnama”. Di bagian ini, Yudhis menyisipkan pembacaan puisinya di celah lagu.
Bagian terakhir dari repertoire Safari ini adalah sajak panjang 11 halaman ” Rudi Jalak Gugat” yang dibacakan secara keroyokan oleh Yudhis, Siska Yudhistira dan Kang Acep.
Para penonton pun memberikan tepuk tangan yang meriah.
Perhelatan ini makin meriah karena beberapa dosen FIB Unpad juga tampil membacakan beberapa puisi. Mereka adalah Baban Banita, M. Irfan Hidayatullah, dan Djarlis Gunawan.
Selain itu, tampil pula mahasiwa Program Studi Sastra yang membawakan sebuah lagu secara teatrikal.
Acara yang semula dijadwalkan berlangsung hingga pukul 15.00 ini molor hingga pukul 16.00. “Pertunjukan istimewa ini benar-benar merupakan perkuliahan yang sebenarnya. Mari kita rayakan, ” kata Irfan Hidayatullah.
Bagian penutup Safari adalah diskusi yang dipandu oleh Kritikus Sastra Nizar Machyuzaar Eugen. Ternyata tak cuma para mahasiswa yang angkat bertanya. Para dosen pun tak mau ketinggalan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak hanya tentang proses kreatif, melainkan juga tentang latar sosial-politik-sejarah yang melingkupi karya-karya kedua penyair.
Mahasiswa Prodi Sastra Unpad yang sudah dua tahun belakangan ini tidak ke kampus lantaran melaksanakan perkuliahan secara daring, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka memenuhi Aula Pusat Studi Bahasa Jepang.
Bukan hanya mahasiswa, Safari Sastra hari keempat ini juga dihadiri beberapa remaja berseragam SMA. Mereka adalah anak SMA Negeri Jatinangor yang lokasi sekolahnya tidak jauh dari kampus Unpad.
“Dari info yang beredar di medsos kami tahu ada acara ini. Lalu kami datang, dan diperbolehkah masuk untuk ikut menonton,” tutur Irma, salah satu siswa SMA.
” Acaranya keren banget.. Saya jadi pengen tahu lebih banyak soal puisi, ” tambah rekannya Raisya.
Yudhis mengaku terharu melihat antusiasme hadirin di hari keempat safari sastranya ini. Dari catatan absesensi, sedikitnya 70 mahasiswa hadir secara langsung, dan 126 yang mengkuti secara daring. Mereka semua bertahan hingga acara selesai.[]
Penulis : TAUFIK ABRIANSYAH
Foto-foto: Wildan Ahmad.

Leave a Reply

Your email address will not be published.