Sejarah

Lahirnya Program Studi Sastra Indonesia Unpad, diawalii dari lahirnya Fakultas Sastra yang secara resmi dibuka pada tanggal 1 November 1958. Pembukaan ini didasarkan pada Surat Keputusan Yayasan Pembina Universitas Padjadjaran No. 6/FS/531, tertanggal 1 Oktober 1958, tentang Pembukaan Fakultas Sastra. Pada saat didirikan, Fakultas Sastra berada di bawah pembinaan Yayasan Pembina Universitas Padjadjaran.

Kurang lebih dua tahun kemudian, untuk lebih memperluas peran yang bisa dimainkan Fakultas Sastra di bidang pendidikan, status Fakultas Sastra memperoleh legalitas yang lebih kuat dengan keluarnya Surat Keputusan Menteri PPK no. 66971/UU/60, tertanggal 12 Agustus 1960.

Berdasarkan SK Menteri PPK tersebut, secara otomatis sejak tahun tersebut Fakultas Sastra secara resmi menjadi salah satu fakultas di lingkungan Universitas Negeri Padjadjaran atau tepatnya menjadi fakultas kedelapan di lingkungan Universitas Padjadjaran.

Sastra Indonesia menjadi program studi yang paling pertama ada di Fakultas Sastra saat itu bersama dengan Prodi Sunda, dan Inggris, Sejarah. Seiring dengan semangat yang menyertai perubahan status Fakultas Sastra, jumlah jurusan pun ditambah satu, dengan didirikannya Jurusan Bahasa dan Sastra Perancis. Dengan demikian, hingga saat keluarnya SK Menteri PPK ada empat jurusan yang dimiliki Fakultas Sastra, yakni Jurusan Sastra Indonesia dan Sunda, Jurusan Sastra Inggris, Jurusan Sejarah, serta Jurusan Sastra Perancis.

Sejalan dengan terjadinya peningkatan minat masyarakat terhadap pendidikan tinggi, Fakultas Sastra terus pula berupaya mengembangkan kapasitas dan kemampuannya. Dari upaya tersebut, dalam waktu tidak lebih dari lima tahun, setidaknya ada enam jurusan baru yang berhasil dibuka oleh Fakultas Sastra.

Keenam jurusan baru dimaksud adalah Jurusan Antropologi, Jurusan Sastra Jepang, Jurusan Sastra Rusia, Jurusan Sastra Cina, Jurusan Sastra Jerman, serta Jurusan Sastra Arab. Jurusan Sastra Jepang, Rusia, dan Cina mulai dikembangkan Fakultas Sastra pada tahun 1962, sebagai hasil integrasi dari APABA (Akademi Pendidikan Ahli Bahasa Asing).

Hampir bersamaan dengan dikembangkannya ketiga jurusan bahasa dan sastra asing tersebut, berdiri pula Jurusan Antropologi. Jurusan Antropologi ini tepatnya berdiri pada tanggal 19 April 1962. Dua jurusan yang disebutkan terakhir, yakni Jurusan Bahasa dan Sastra Jerman serta Jurusan Bahasa dan Sastra Arab dikembangkan Fakultas Sastra sejak tahun 1964. Dengan demikian, sejak tahun 1964, setidaknya ada sebelas jurusan yang dimiliki Fakultas Sastra. Adapun kesebelas jurusan dimaksud adalah Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastra Daerah, Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris, Jurusan Bahasa dan Sastra Perancis, Jurusan Sejarah, Jurusan Bahasa dan Sastra Jepang, Jurusan Bahasa dan Sastra Rusia, Jurusan Bahasa dan Sastra Jerman, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Jurusan Bahasa dan Sastra Cina, dan Jurusan Antropologi.

Dalam perkembangan selanjutnya, dari sebelas jurusan yang dikembangkan Fakultas Sastra, ada satu jurusan yang kemudian dihapuskan dari Fakultas Sastra, yakni Jurusan Bahasa dan Sastra Cina. Jurusan ini dihapuskan pada tahun 1968 karena tenaga edukatifnya tidak memadai, minat calon mahasiswa kurang, dan situasi politik tidak menunjang. Kurang lebih enam belas tahun kemudian, salah satu jurusan di Fakultas Sastra, yakni Jurusan Antropologi, dipindahkan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Integrasi Jurusan Antropologi dari Fakultas Sastra ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ini didasarkan pada Surat Keputusan Mendikbud No. 017/O/1983 Jo No. 0547/O/1983 jo SK Rektor Unpad No. 77/1/UI/06/a/1984, tanggal 9 Juli 1984. Dengan kepindahan Jurusan Antropologi ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, secara otomatis sejak pertengahan tahun 1980-an, Fakultas Sastra tinggal memiliki sembilan jurusan.

Meningkatnya kebutuhan dunia kerja akan tenaga profesional di era tahun 1980-an mendorong Fakultas Sastra membuka Program Pendidikan Diploma III. Pada waktu dibuka pertama kali tahun 1987, Program Diploma III Fakultas Sastra baru memiliki dua program studi, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang. Beberapa waktu kemudian, seiring dengan meningkatnya minat terhadap pendidikan diploma, secara berturut-turut dibuka tiga program studi baru, yakni Program Studi Bahasa Indonesia, Program Studi Bahasa Perancis, dan Program Studi Bahasa Jerman.

Sejalan dengan telah selesainya pembangunan gedung baru Fakultas Sastra di Jatinangor, Fakultas Sastra secara resmi mulai tahun akademik 1992/1993 memindahkan semua kegiatan akademisnya ke kampus baru di Jatinangor. Kegiatan akademis ini secara penuh mulai dilakukan di Jatinangor sejak tanggal 7 September 1992. Dengan demikian, pada saat Fakultas Sastra pindah ke Jatinangor, ada sembilan jurusan program sarjana dan lima program studi program Diploma III yang turut diboyong.

Kepindahan ke kampus Jatinangor tampak membuat Fakultas Sastra semakin dinamis. Hal ini ditandai oleh terus berlangsungnya berbagai upaya penataan dan pengembangan, baik pada program pascasarjana, program sarjana maupun program Diploma III. Dengan kondisi tersebut, ke depan bisa dipastikan bahwa pembukaan atau penambahan jurusan serta program-program studi baru pada berbagai jenjang pendidikan akan tetap terbuka lebar, seiring dengan kebutuhan masyarakat dan tuntutan zaman.

Di luar berbagai perkembangan tersebut, dalam upaya untuk memperoleh ruang dan peluang yang lebih besar bagi berbagai upaya pengembangan, Fakultas Sastra juga berupaya mengubah namanya menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Melalui upaya dan kerja keras, proses perubahan nama tersebut pada akhirnya memperoleh pengesahan dari Senat Universitas pada tanggal 5 Januari 2012, sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Rektor Universitas Padjadjaran, No. 350/UN6.RKT/PP/2012 tertanggal 5 Januari 2012, tentang Penetapan Perubahan Nama Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Menjadi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.

Sementara itu pada tingkat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, perubahan nama pun secara implisit telah memperoleh persetujuan, sebagaimana surat yang disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Nasional Dodi Nandika kepada Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera dan Reformasi Birokrasi Nasional, No. 61783/A.A5/ OT/2011, tertanggal 14 Juli 2011, perihal Perubahan Nama Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya. Perubahan nama fakultas ini kemudian diluncurkan secara resmi pada tanggal 10 April 2012.