Model Matematika Bisa Meminimumkan Laju Kepunahan Bahasa

 

[unpad.ac.id, 10/4/2021] Model matematika bisa digunakan untuk memprediksi waktu terjadinya kepunahan suatu bahasa. Adanya pemodelan matematika dapat membantu pihak terkait untuk mengambil keputusan optimal.

“Ada keterkaitan erat dalam ranah penelitian atau pun kajian dalam hal kebahasaan dan juga matematika,” ujar Dosen Matematika FMIPA Universitas Padjadjaran Dr. Diah Chaerani, M.Si., dalam “Kuliah Umum Bahasa dan Matematika: Model Matematika untuk Kepunahan Bahasa” yang digelar secara virtual, Jumat (9/4).

Kuliah umum diselenggarakan atas kerja sama Program Studi Sastra Indonesia dan Sastra Jerman Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unpad serta Program Studi S-2 dan S-3 Matematika FMIPA Unpad.

Baca juga: Atlet Unpad Sumbang Medali di Pomnas
Kaprodi S-2 dan S-3 Matematika FMIPA Unpad ini menjelaskan, dalam matematika, pemodelan optimisasi dapat membantu pihak terkait untuk mengambil keputusan optimal dengan menggunakan hasil riset kuantitatif serta berdasarkan pada fakta dan data.

Diah pun menawarkan suatu konsep model optimisasi kepunahan bahasa. Model optimasi ini digunakan untuk meminimumkan laju kepunahan dari setiap bahasa yang akan diamati.

Dalam model tersebut, ditentukan berapa jumlah orang yang berbicara suatu bahasa sehingga bisa mempertahankan bahasanya.

“Jadi kan laju kepunahan bahasa bergantung jumlah orang atau jumlah penuturnya. Maka kita harus tahu secara presisi sebetulnya jumlahnya harus berapa supaya tidak terjadi kepunahan. Nah, itu kajian optimisasinya,” ujar dosen yang menggeluti bidang riset operasi dan optimisasi ini.

Dijelaskan Diah, model tersebut meminimumkan laju dinamika kepunahan bahasa dengan melihat jumlah penutur dari suatu level minimal yang diberikan, semua fraksi penutur berjumlah 1, serta melibatkan peluang pergeseran bahasa dan tingkat volatility.

Menurutnya, pengembangan model tersebut memungkinkan adanya kajian lebih lanjut dari bidang bahasa maupun matematika.

“Memungkinkan kita lakukan dengan kajian merger. Selain kajian bahasanya, tapi dari metode matematikanya sendiri pun kita bisa menggabungkan beberapa metode, antara lain persamaan diferensial, model dinamika atau sistem dinamik, dan optimisasi,” ujar Diah.

Baca juga: Prosesi PMB Unpad 2015 Akan Tanamkan Semangat Kolaborasi
Diah melanjutkan, pengembangan riset dalam bidang bahasa dan matematika dapat terus dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek prospektif dalam pemodelan matematika. Jalinan kerja sama dengan berbagai pihak juga perlu dilakukan.

“Tentunya model matematika tidak akan bermakna tanpa data, sehingga tentu saja untuk menguji validasi model-model yang kita tawarkan diperlukan jalinan kerja sama antar institusi, baik universitas, badan riset, maupun instasi yang memiliki data terkait bahasa,” ujarnya.(arm).